Senin, 25 April 2016

membaca dongeng



Semangka Emas
Pada zaman dahulu kala di Sambas Kalimantan Barat, tinggalah seorang saudagar. Ia mempunyai dua orang putra yang bernama Muzakir dan Dermawan. Muzakir sangat loba dan kikir sebaliknya Dermawan adalah orang yang sangat peduli dan selalu bersedekah kepada fakir miskin. Dermawan tidak rakus dengan harta dan uang. Sebelum meninggal saudagar tersebut membagi hartanya secara rata. Uang bagian Muzakir disimpan di peti bila ada orang-orang orang miskin datang ia tidak mau memberi sedekah tetapi justru menghina orang miskin tersebut. Berbeda dengan Dermawan yang selalu menyambut orang-orang miskin tersebut dengan senang hati dan ramah. Lama kelamaan harta Dermawan habis untuk menyedekahi orang-orang miskin tersebut yang hampir setiap hari datang ke rumah Dermawan.
Suatu hari Dermawan menolong seekor burung yang sayapnya patah. Dermawan merawat burung pipit tersebut hingga burung itu dapat terbang kembali. Beberapa hari kemudian burung tersebut kembali dan memberi sebutir biji kepada Dermawan walaupun biji tersebut hanya kecil Dermawan tetap menanamnya. Pada waktu panen tiba Dermawan memetik buah semangka yang sudah tumuh besar tersebut kemudian ia membelahnya. Saat ia membelah semangka besar tersebut tak disangka semangka tersebut berisi pasir kuning yang tak lain adalah emas murni. Dermawan pun mengucapkan terima kasih kepada burung pipit itu. Kini Dermawan hidup dengan berkecukupan ia memiliki rumah yang besar dan hartanya melimpah tetapi ia tetap memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan. Harta Dermawan kini tidak akan habis karena uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah.
Mendengar bahwa Dermawan kini kaya raya, Muzakir meniru tindakan Dermawan. Muzakir menolong burung yang sengaja ia patahkan sayapnya dengan sumpit. Ia juga merawat burung tersebut hingga burung tersebut dapat kembali terbang. Burung itu juga memberi biji kepada Muzakir. Ketika sudah dipanen Muzakir membelah semangka yang jauh lebih besar dibanding semangka milik Dermawan. Bukan emas yang ia dapatkan namun semburan lumpur hitam bercampur kotoran yang baunya busuk.

artikel profil



ARTIKEL PROFIL
Dia adalah seorang tenaga pengajar pendidik di salah satu sekolah tempat saya menuntut ilmu dulu. wanita kelahiran Tg.balai karimun, 05 November 1987 merupakan putri ke-3 dari bapak H.Abdul Madjid dan ibu Hj.Raja Sakdiah. Beliau salah satu wanita yang mempunyai prestasi yang cemerlang, ia bernama Tisrin Maulina Dewi, S.Pd, M,Pd.
Wanita yang hobbynya Rihlah dan membaca ini merupakan tenaga pengajar yang pernah mengajar di:
-SDN 002 RSBI, pada tahun 2009-2010
-SMAN 1 DURAI KARIMUN, pada tahun 2010-2011
-MA USB  KARIMUN, pada tahun2011-2014.
Wanita yang bercita-cita menjadi dosen ini memiliki prestasi yang pernah di raih. Dari SD-SMA selalu mendapat juara kelas, 2 tahun juara umum sewaktu sekolah SMA, Juara 1 guru berprestasi MA tingkat kabupaten dan Juara 3 guru berprestasi MA tingkat Provinsi Kepri pada tahun 2012, pada tahun 2013 beliau meraih juara 3 guru berprestasi MA tingkat Provinsi Kepri lagi, dan juara 1 lomba cerdas cermat narkoba tingkat guru Kabupaten Karimun.
Wanita yang mempunyai motto hidup “Bermanfaat Untuk Orang Lain” ini pernah menjadi mahasiswi FKIP Pendidikan Biologi Universitas.RPB, dengan waktu 3 tahun 6 bulan untuk menyelesaikan S.1, dan Pendidikan Biologi  Universitas Negri Medan, dengan waktu 1 tahun 7 bualan untuk menyelesaikan S.2. Luar biasa bukan? Dengan waktu yang singkat bisa menyelesaikan program kuliah dengan cepat.
Motivasi beliau juga sangat simple yaitu Ingin turut mencerdaskan anak bangsa dan karena menjadi guru ini juga kita sekalian belajar untuk diri sendiri juga sebagai ladang amal kita di akhirat kelak. Beliau memilih Pendidikan Biologi karena mata pelajaran biologi ini erat kaitannya dengan kehidupan kita dan kita juga lebih memahami tentang apa yang ada pada diri kita sendiri.
Semoga cita-cita dan harapan beliau terwujud dan akan ada generasi berikutnya penerus beliau.

Minggu, 24 April 2016

cerpen ketika semua telah berubah



Ketika Semua Telah Berubah
( Karya :Mira Industri )
Aku memandangi kamar ini untuk kesekian kalinya, yang tergambar dalam benakku sangatlah jelas dan tidak berubah. Aku teringat kenangan-kenangan lama bersamanya, kenangan yang tak akan aku lupakan begitu saja. Aku teringat bagaimana ia selalu ada di sampingku saat senang maupun susah, karena iya selalu mengerti bagaimana membuat ku tersenyum.
Aku seperti di hantam sesuatu. Aku tahu, ini menyakitkan. Jika mengingat kenangan dulu menetes air mata yang tak terbendung lagi. Aisyah dan Raniah adalah sahabat ku semenjak aku kuliah di bumi ber-Azam  ini. Aisyah adalah teman sekolah ku ketika di Smp dulu, sedangkan Raniah adalah teman ku ketika sekolah di Madrasah Aliyah. Kami bertiga berasal dari SMA yang sama sehingga setelah lulus SMA guru dan juga wali kelas kami mendaftarkan kami bertiga di Universitas yang sama juga.
“mir kapan berangkat?” tanya raniah mengirimkan pesan singkat dari massanger.
“ belum tau nih ran, kamu sendiri kapan?” tanya ku kepada raniah
“aku belum tau juga mir, tapi kita kan mulai ospek tanggal 26 agustus. Rencana aku gimana kalau kita berangkat sebelum tanggal itu supaya gak terburu-buru.” Saran raniah dari balik layar hp.
“ bagus juga ide mu ran… gimana kalau kita berangkat tanggal 20 aja? Kebetulan tanggal segitukan ada kapal roro” ujar ku dengan meminta pendapat dari raniah.
“ wah bener juga tuh mir, sekalian irit ongkos, hehehe…” kata raniah.
“ ya udah kamu kasi tahu yang lain mereka mau ikut berangkat tanggal segitu juga tidak?” balas ku kepada raniah
“ siip mir”.
Keesokan harinya kami janjian untuk ketemu di pelabuhan roro. Masing-masing diantar dengan orang tua dan kerabat dekat dengan bawaan yang begitu banyak, tak terkurang dengan ku satu koper besar dan 2 bag besar yang harus kujinjing. Dengan pelepasan dan pesan dari orang tua berangkat lah kami berdelapan ke tempat rantau dengan niat melanjutkan pendidikan di negeri seberang. Aku, raniah, aisyah,fara,ani,rebi,putri ja’far,dan satu lagi dari sekolah tetangga bernama prita.
“ pertualangan di mulai dari kapal roro….” Sahut putri ja’far dengan riangnya.
“ yeeyyy…” sahut anak-anak lainnya.
“ perjuangan yang keras ya kawan, semoga kita berhasil dan pulang dengan membanggakan orang tua.” Ujar aisyah dengan mengelap muka.
“amin..” ucap ku dan teman-teman secara serentak.
Tidak terasa sudah tengah hari, berarti sudah hampir 3 jam kami di atas kapal ini. Tiba-tiba aisyah datang menghampiri untuk zuhur berjamaah.
“ raniah, fara, mita, udah jam setengah satu sholat zuhur yuk, setelah itu kita makan siang sama-sama” ajak aisyah.
“ oug iyy lupe dah zuhur” kata putri ja’far
(menuju mushola kapal berpassan dengan ani dan prita yang lagi nonton)
“ mau kemana kalian?” tanya ani
“ mau kemushola belakang ni. Mau ikut? Yok lah” ajak fara sama ani
“ oug duluan lah ra, nanti ani nyusul” jawab ani dengan senyum.
Fara pun berlalu begitu saja
Jarum jam menunjukan waktu 19.00 wib. Dengan gelisah rebi dan putri ja’far melihat jam tangan yang iya gunakan.
“ dah jam segini belom juge sampai-sampai. Mati ah…” kata putri ja’far dengan ekspresi muka yang cemberut.
“ ntah, macam nak aku sondol kapal nhe,,, lambat na gerak dy. Macam sipot” kata rebi dengan bibir manyun.
“ sabar kawan-kawan, tadi kami tanye same orang kapal, kata nya sekitar 2 jam lagi sampai ke pinang” jawab aisyah dengan menenangkan yang lainnya.
“ Mak eehh, lamenye??” celetuk ani dari belakang.
“ fara dah sms ahmadi blom? Nanti takut bg ahmadi nunggu lama” kata raniah menggegerkan lamunan fara.
“ iya sudah fara sms tadi” jawab fara dengan tenang.
Kami sampai di pinang pukul 21.15. berarti 10 jam perjalanan dari tg.balai-tg.pinang. semua muka pada kusut karena kelelahan. Malam ini kami nginap dirumah ahmadi, besok nya aku, aisyah, dan raniah baru berangkat pergi ke Asrama Putri Selendang Delima. Dan di situ perjalanan kisah kami dimulai.
Tak terasa sudah hampir dua tahun kami berada di tg.pinang untuk menuntut ilmu. Kami bertiga sekarang sudah semester 4 di fakultas yang sama namun jurusan yang berbeda. Aku di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Aisyah di prodi Pendidikan Biologi, dan raniah di prodi Matematika.
Semoga kami bisa menyelesaikan pendidikan dengan tepat waktu, bahkan lebih cepat dari waktu yang telah di tentukan. Amin.

Rabu, 20 April 2016

membaca dan menganalisis cerpen



Untuk Sahabatku

Ketika dunia terang, alangkah semakin indah jikalau ada sahabat disisi. Kala langit mendung, begitu tenangnya jika ada sahabat menemani. Saat semua terasa sepi, begitu senangnya jika ada sahabat disampingku. Sahabat. Sahabat. Dan sahabat. Ya, itulah kira-kira sedikit tentang diriku yang begitu merindukan kehadiran seorang sahabat.
Aku memang seorang yang sangat fanatik pada persahabatan. Namun, sekian lama pengembaraanku mencari sahabat, tak jua ia kutemukan. Sampai sekarang, saat ku telah hampir lulus dari sekolahku. Sekolah berasrama, kupikir itu akan memudahkanku mencari sahabat. Tapi kenyataan dengan harapanku tak sejalan. Beragam orang disini belum juga bisa kujadikan sahabat. Tiga tahun berlalu, yang kudapat hanya kekecewaan dalam menjalin sebuah persahabatan. Memang tak ada yang abadi di dunia ini. Tapi paling tidak, kuharap dalam tiga tahun yang kuhabiskan di sekolahku ini, aku mendapatkan sahabat.
Nyatanya, orang yang kuanggap sahabat, justru meninggalkanku kala ku membutuhkannya. “May, nelpon yuk. Wartel buka tuh,” ujar seorang teman yang hampir kuanggap sahabat, Ria pada sahabatku yang lain saat kami di perpustakaan. “Yuk, yuk, yuk!” balas Maya, ‘sahabatku’. Tanpa mengajakku Kugaris bawahi, dia tak mengajakku. Langsung pergi dengan tanpa ada basa-basi sedikitpun. Padahal hari-hari kami di asrama sering dihabiskan bersama. Huh, apalagi yang bisa kulakukan. Aku melangkah keluar dari perpustakaan dengan menahan tangis begitu dasyat. Aku begitu lelah menghadapi kesendirianku yang tak kunjung membaik. Aku selalu merasa tak punya teman. “Vy, gue numpang ya, ke kasur lo,” ujarku pada seorang yang lagi-lagi kuanggap sahabat. Silvy membiarkanku berbaring di kasurnya. Aku menutup wajahku dengan bantal.
Tangis yang selama ini kutahan akhirnya pecah juga. Tak lagi terbendung. Sesak di dadaku tak lagi tertahan. Mengapa mereka tak juga sadar aku butuh teman. Aku takut merasa sendiri. Sendiri dalam sepi begitu mengerikan. Apa kurangku sehingga orang yang kuanggap sahabat selalu pergi meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti semua ini. Begitu banyak pengorbanan yang kulakukan untuk sahabat-sahabatku, tapi lagi-lagi mereka menjauhiku. “Faiy, lo kenapa sih ? kok nangis tiba-tiba,” tanya Silvy padaku begitu aku menyelesaikan tangisku. “Ngga papa, Vy,” aku mencoba tersenyum. Senyuman yang sungguh lirih jika kumaknai. “Faiy, tau nggak ? tadi gue ketemu loh sama dia,” ujar Silvy malu-malu. Dia pasti ingin bercerita tentang lelaki yang dia sukai.
Aku tak begitu berharap banyak padanya untuk menjadi sahabatku. Kurasa semua sama. Tak ada yang setia. Kadang aku merasa hanya dimanfaatkan oleh ‘sahabat-sahabatku’ itu. Kala dibutuhkan, aku didekati. Begitu masalah mereka selesai, aku dicampakkan kembali. “Faiy, kenapa ya, Lara malah jadi jauh sama gue. Padahal gue deket banget sama dia. Dia yang dulu paling ngerti gue. Sahabat gue,” Silvy curhat padaku tentang Lara yang begitu dekat dengannya, dulu. Sekarang ia lebih sering cerita padaku. Entah mengapa mereka jadi menjauh begitu. “Yah, Vy. Jangan merasa sendirian gitu dong,” balasku tersenyum. Aku menerawang,” Kalau lo sadar, Vy, Allah kan selalu bersama kita. Kita ngga pernah sendirian. Dia selalu menemani kita. Kalau kita masih merasa sendiri juga, berarti jelas kita ngga ingat Dia,” kata-kata itu begitu saja mengalir dari bibirku. Sesaat aku tersadar. Kata-kata itu juga tepat untukku. Oh, Allah, maafkanku selama ini melupakanmu. Padahal Dia selalu bersamaku. Tetapi aku masih sering merasa sendiri.
Sedangkan Allah setia bersama kita sepanjang waktu. Bodohnya aku. Aku ngga pernah hidup sendiri. Ada Allah yang selalu menemaniku. Dan seharusnya aku sadar, dua malaikat bahkan selalu di sisiku. Tak pernah absen menjagaku. Kenapa selama ini aku tak menyadarinya? Dia akan selalu mendengarkan ‘curhatanku’. Dijamin aman. Malah mendapat solusi. Silvy tiba-tiba memelukku. “Sorry banget, Faiy. Seharusnya gue sadar. Selama ini tuh lo yang selalu nemenin gue, dengerin curhatan gue, ngga pernah bete sama gue. Dan lo bisa ngingetin gue ke Dia. Lo shabat gue. Kenapa gue baru sadar sekarang, saat kita sebentar lagi berpisah…” Silvy tak kuasa menahan tangisnya. Aku merasakan kehampaan sejenak. Air mataku juga ikut meledak. Akhirnya, setelah aku sadar bahwa aku ngga pernah sendiri dan ingat lagi padaNya, tak perlu aku yang mengatakan ‘ingin menjadi sahabat’ pada seseorang. Bahkan malah orang lain yang membutuhkan kita sebagai sahabatnya. Aku melepaskan pelukan kami. “ Makasih ya, Vy. Ngga papa koki kita pisah. Emang kalau pisah, persahabatan bakal putus. Kalau putus, itu bukan persahabatan,” kataku tersenyum.
Akhir sisa-sisa air mataku. Kami tersenyum bersama. Persahabatan yang indah, semoga persahabatan kami diridoi Allah. Sahabat itu, terkadang tak perlu kita cari. Dia yang akan menghampiri kita dengan sendirinya. Kita hanya perlu berbuat baik pada siapapun. Dan yang terpenting, jangan sampai kita melupakan Allah. Jangan merasa sepi. La takhof, wala tahzan, innallaha ma’ana..Dia tak pernah meninggalkan kita. Maka jangan pula tinggalkannya.  
 
Unsur Instrinsik :
1.      Tema : Persahabatan
2.      Tokoh : Faiy, Maya, Ria, Silvy, Lara
3.      Watak :
·         Faiy : Kurang percaya diri
·         Maya : Tidak peduli
·         Ria: Tidak peduli
·         Lara : Acuh
·         Silvy: Peduli

4.      Alur : Maju mundur
5.      Latar :

  •   Tempat: - Asrama

-Perpustakaan
-Di kamar silvy

  •  Waktu : Siang Hari
  • Suasana : Mengharukan
6.      Sudut pandang : Orang Pertama
7.      Amanat : Sebagai makluk hidup kita harus percaya adanya tuhan yang selalu menemani umatnya dimana pun berada.