Minggu, 31 Juli 2016

Cerpen Untuk Ayah

Titip Rindu Untuk Ayah (Part 1)
(karya : Mira Industri)
Seorang lelaki yang amat dan sangat berarti dalam hidup ku. Seorang yang tak pernah lepas dalam hidupku sampai aku menutup mata nanti, seorang yang tak pernah lelah menasehatiku ketika aku melakukan kesalahan, seorang  yang tak pernah lelah menanti kepulangan ku  dari tanah rantau.
Ayah pria perkasa yang selalu ada di sampingku yang menemani hari-hari dan sejarah dalam hidupku. Ayah mentari pagi yang selalu menyinari hidupku ketika aku mulai lelah dengan perjalan panjang yang tiada berakhir ini. Ayah adalah sang motivator yang sesalu siaga di belakang di saat aku mulai lelah dan ingin terjatuh, ia adalah malaikat pelindung hidupku.
Goresan demi goresan aku tuliskan dalam kertas berwarna putih, seputih hati ayah. Aku tak pernah menyesal karena dilahirkan di keluarga ini, tapi aku bersyukur telah dititipkan di keluarga yang sederhana ini yang selalu mengajari aku arti bersyukur. Dari ayah aku belajar banyak hal, dari kecil aku melihat sendiri kerja keras ayah untuk membahagiakan keluarga kecil kami.
Aku tak penah mengenal keluarga besar ayah, karena semenjak kedua orang tua ayah meninggal, ayah pergi meninggalkan kampung halaman dan merantau ke kota orang. Ketika aku bertanya ayah tak mau cerita, tapi aku mendengar cerita ayah dari kakak sepupu ayah yang dekat dan masih satu pertalian darah sama ayah. Ayah suka ketika mak wo (sebutan tante dalam bahasa minang) membalutkan kain di kepala, dia bilang mirip dengan wajah ibunya. Mungkin dengan itu bisa melepas rindu dengan ibunda beliau.
Kini permata hati ayah hati ayah telah dewasa, telah mengenal arti cinta. Anak ayah yang satu ini telah jatuh hati dengan anak kampung dari pulau seberang. Ayah menerimanya dengan baik. Ayah… seandainya ayah tahu bahwa putri ayah begitu mencintai dan merindukan ayah, karena aktivitas membuat kita berjarak, tapi percayalah putri ayah ini tak kan pernah melupakan ayah. setiap ponsel berdering, dilayar ponsel pasti tertera nama ayah.
Lelaki ini tak pernah absen meneleponku, ia akan berenti menelfon jika pulsanya telah habis atau ia tidak akan menelfon jika tidak mempunyai pulsa dan aku paham itu. Jika aku tidak mengangkat telfonnya, sasaran telfonnya ke adik perempuan ku yang satu lagi. Dia satu tahun lebih muda dariku, tapi kami tak pernah akur. Seperti kucing dan tikus yang selalu mencari masalah jika tidak ada masalah.
Lelaki tampan yang yang mirip dengan ayah adalah adik bungsuku yang cengeng namun memiliki dan mewarisi sifat ayah, ia rajin jika di perintah ayah dan ibu. Namun lelaki bungsu ayah yang satu ini tidak bisa dibentak, jika ia menangis bakalan lama drama melonya. Sedangkan adik di bawah cewek dan di atas bungsu agak berbeda. Ia satu-satunya anak yang mewarisi gen ayah yang berkulit hitam, aku biasa memanggilnya dengan pak itam. Bukan karena aku mengejeknya tapi aku suka memanggilnya dengan sebutan itu. Aku mempunyai seorang kakak lelaki, tapi tak perlu lah aku ceritakan.
Ayah selalu adil terhadap ke lima anaknya tapi ia tak juga memanjakan anaknya, ia hanya memberikan yang terbaik untuk kami semua. Ibu adalah pendamping ayah yang ke empat dan ibulah yang berhasil memberikan permata hati ayah. istri pertama dan kedua cerai hidup karena tidak memiliki anak, istri yang ketiga di panggil sang maha kuasa setelah melahirkan buah cinta mereka. Setelah seminggu kepergian ibunya putra lelaki yang dilahirkannya pun ikut menyusul di panggil sang ilahi.
Setelah kepergian anak dan istri tercinta ayah pergi merantau ketempat lain dan bertemu lah dengan ibu dan hadirlah kami sebegai pelengkap kehidupan mereka. Ayah sekarang bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu instansi pemerintah daerah. Sudah lima belas tahun ayah mengabdi di sana. Ayah tak menuntut banyak ia hanya ingin mengabdi kepada pekerjaannya.
Sebagai anak kedua membuat aku ikut berperan dalam menanggung beban keluarga, aku menjadi pundak untuk bersandar adik-adikku. Aku ingin jadi bagian dalam hidup mereka, aku ingin ikut andil dalam membesarkan mereka, aku ingin mereka tidak salah pergaulan dan salah jalan. Aku tak ingin mengekang mereka, tapi aku juga tak ingin mereka terlalu bebas dengan dunia yang belum pantas untuk mereka masuki.
Ayah selalu bilang “ jangan paksa mereka untuk paham, karena belum saatnya. Ada masanya mereka mengerti”. Aku dan dan ayah seperti solmet, dimana ada ayah di situ ada aku. Aku juga dari kecil sudah terbiasa ikut ayah bekerja ketika ayah bekerja di lapangan. Masih lekat di ingatanku ketika aku duduk di bangku kelas dua Smp, saat itu pagi-pagi sekali seperti biasa ibu mengikat rambutku ketika sebelum berangkat sekolah.
Ketika ingin berangkat sekolah, aku melihat sapu tangan hijau di atas meja dekat cangkir minuman ayah, ku ambil sapu tangan itu lalu aku pergi sekolah dengan berjalan kaki. Dari rumah menuju Smp tempat ku menuntut ilmu tidak terlalu jauh, di sekolah aku melakukan aktivitas seperti biasa. Hari itu tidak ada firasat apa-apa, namun entah mengapa aku ingin sekali pulang lewat jalan raya. Padahal jika aku dan teman-teman lewat jalan luar otomatis aku mutar dua kali untuk jalan pulang. Yah tapi karena keingin hati terlalu kuat, aku dan teman-teman tetap melangkahkan kaki pulang kerumah melewati jalan luar.
Tidak terlalu jauh memasuki gang, tidak jauh di dekat lapangan bola tiba-tiba saja ricuh. Semua orang berlari ke kerumunan orang-orang di tempat kejadian, aku pun penasaran lalu berlari ke tempat orang-orang berkerumun tersebut. Karena tubuhku yang kecil dan orang-orang yang berkerumun begitu padat aku tak dapat melihat kejadian yang terjadi di dalam kerumunan tersebut. Dari arah depan tiba-tiba datang teman sekelasku memanggil dengan panik, “mir… mir… bapak mu kecelakaan?” bagaikan di sambar petir,  pemandangan ku tiba-tiba kabur.
Aku lalu di antar pulang kerumah oleh salah satu orang yang ada di tempat kejadian, dan ayah sudah di bawa kerumah sakit umum daerah. Di rumah aku melihat ibu lagi mekai jilbab sambil menangis, di depan rumah ada kakek. Lalu karena ibu lagi menyiapkan barang-barang ayah, kakek lalu mengajak aku untuk pergi kerumah sakit.masih ingat di ingatan pada saat itu pas bulan suci ramadhan.
Didepan sebuah ruangan aku melihat ayah lagi di tindak lanjuti oleh rekan medis rumah sakit. Dengan masih polos aku menangis di depan pintu icu dengan sapu tangan hijau yang masih aku genggam yang aku bawa ketika pergi sekolah tadi. Lalu tak selang beberapa lama dokter keluar dengan dan menanyakan keluarga ayah. lalu aku menghampiri pria berbaju putih lalu menanyakan keadaan ayah,” dok gimana keadaan ayah?” ujar ku khawatir. “ tenang ya dek, ibu adek mana? Ayah adek lagi kritis. Kami butuh tanda tangan surat pernyataan ahli keluarga untuk menindak lanjuti bapak”. Ujar dokter menenangkan ku.
“ emangnya bapak kenapa dok?” Tanya ku dengan penasaran. “ ada pendarahan di kepala yang harus di hentikan”, Ujar dokter. “ lakukan yang terbaik dok, surat menyurat biar saya yang urus”, ujar ku manatap sambil menunggu kedatangan ibu. Aku tak mau ayah sampai lambat di tangani. Ayah adalah segala bagiku untuk saat ini aku belum siap kehilangan ayah.
Sudah satu jam ayah diruang operasi dan sudah tiga jam ayah ayah dalam keadaan koma, dan belum sadarakan diri. Aku di dekap ibu sambil menangis, aku takut terjadi sesuatu sama ayah. tak lama kemudian suster ruangan keluar memanggil dokter, dan dokter memanggil ibu dan aku tetap menunggu di luar. Entah apa yang ibu bicarakan bersama dokter yang bernama Deny itu tak tau lah. Setelah ayah di pindahkan di ruangan rawat inap aku dan ibu yang menjaga ayah, kadang ibu sendiri yang menjaga ayah di rumah sakit sedangkan aku mengurus keperluan adik-adik di rumah.
Seminggu lebih ayah dirumah sakit dengan tiga belas luka jahitan di kepala, lalu di perbolehkan pulang namun tetap kontrol ulang seminggu sekali. Semenjak itu aku pasti izin sekolah untuk mengantar ayah berobat kedokter. Namun alhamdulilah para guru memahami posisi ku. aku tetap melanjutkan hari-hari ku seperti biasa, semakin hari kondisi ayah semakin baik dan dapat melakukan aktifitas seperti biasa.

***
Setelah aku tamat Sekolah Menengah pertama ( SMP ), aku melanjutkan pendidikan yang berbasis keagamaan di Madrasah Aliyah USB (MAN) Karimun. Ayah yang mengurus dan menemani aku mengurus semua keperluan memasuki sma.  Aku bahagia bertemu dengan teman-teman baru disana. Disana aku belajar pelajaran umum dan pelajaran agama. Sampai kejadian tak terduga kembali terjadi, di saat aku kelas dua SMA keluarga kami di uji kembali kesabarannya. Ayah mengalami musibah kecelakaan tabrak lari, kejadiannya sore hari setelah ayah di tengah perjalanan pulang bekerja.
Ayah mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan lengan kanan ayah patah dan harus menjalani operasi pemasang giv atau apalah itu namanya. Disaaat kejadian itu motor ayah rusak parah dan ayah mengalami pendarahan, dan ayah mengalami kekurangan banyak darah. Kakak lelaki ku sudah mendonorkan satu kantong dan darah, dan di tambah dua kantong darah yang di beli dari kantor PMI. Itu belum juga cukup untuk menutupi darah yang telah hilang dari tubuh ayah, disaat itu juga aku tidak dapat menolong ayah karena aku lagi (maaf) datang bulan. Ingin sekali membantu ayah namun aku tak bisa.
Di saat itu juga aku harus libur izin cuti sekolah selama seminggu, selama seminggu aku menemani ayah di rumah sakit sementara ibu bekerja untuk menutupi kehidupan dan biaya perobatan ayah. sementara dia kakak lelaki hanya mondar mandir entah kemana dan tak menghasilkan apa-apa. Aku geram, gondok, benci kepada lelaki gendut yang seharusnya membantu ibu, seandainya iya mau menjaga ayah di rumah sakit biar aku yang bekerja. Celetuk ku dalam hati.
Setelah dua minggu ayah dirumah sakit, ayah di perbolehkan pulang. Namun kondisi ayah tidak memungkinkan untuk bekerja, dan ibu yang mengambil alih menjadi tulang punggung keluarga. Aku yang menjaga ayah dan amengurus adik-adik dirumah. Hari berganti hari, dan bulan berganti bulan. Sekarang aku duduk di bangku sma kelas tiga Madrasah Aliyah, tak terasa aku telah berada di hujung perjuangan. Aku lulus dengan nilai yang memuaskan, perjuangan ayah tak sia-sia. Ayah begitu bahagia mendengar kelulusan ku, dari sd,smp,sma, memang ayah yang mengantarkan dan menemani aku mendaftar, dan di saat kelulusan ayah juga yang menemani aku mengambil hasil dari tiga tahun aku berjuang di sma.
ayah adalah surga dunia yang tak tergantikan, dia my Hero. Dia my father. My everything.

Bersambung…