Titip Rindu Untuk Ayah (Part 1)
(karya : Mira Industri)
Seorang
lelaki yang amat dan sangat berarti dalam hidup ku. Seorang yang tak pernah
lepas dalam hidupku sampai aku menutup mata nanti, seorang yang tak pernah
lelah menasehatiku ketika aku melakukan kesalahan, seorang yang tak pernah lelah menanti kepulangan ku dari tanah rantau.
Ayah
pria perkasa yang selalu ada di sampingku yang menemani hari-hari dan sejarah
dalam hidupku. Ayah mentari pagi yang selalu menyinari hidupku ketika aku mulai
lelah dengan perjalan panjang yang tiada berakhir ini. Ayah adalah sang
motivator yang sesalu siaga di belakang di saat aku mulai lelah dan ingin
terjatuh, ia adalah malaikat pelindung hidupku.
Goresan
demi goresan aku tuliskan dalam kertas berwarna putih, seputih hati ayah. Aku
tak pernah menyesal karena dilahirkan di keluarga ini, tapi aku bersyukur telah
dititipkan di keluarga yang sederhana ini yang selalu mengajari aku arti
bersyukur. Dari ayah aku belajar banyak hal, dari kecil aku melihat sendiri
kerja keras ayah untuk membahagiakan keluarga kecil kami.
Aku
tak penah mengenal keluarga besar ayah, karena semenjak kedua orang tua ayah
meninggal, ayah pergi meninggalkan kampung halaman dan merantau ke kota orang.
Ketika aku bertanya ayah tak mau cerita, tapi aku mendengar cerita ayah dari
kakak sepupu ayah yang dekat dan masih satu pertalian darah sama ayah. Ayah
suka ketika mak wo (sebutan tante dalam bahasa minang) membalutkan kain di
kepala, dia bilang mirip dengan wajah ibunya. Mungkin dengan itu bisa melepas
rindu dengan ibunda beliau.
Kini
permata hati ayah hati ayah telah dewasa, telah mengenal arti cinta. Anak ayah
yang satu ini telah jatuh hati dengan anak kampung dari pulau seberang. Ayah
menerimanya dengan baik. Ayah… seandainya ayah tahu bahwa putri ayah begitu
mencintai dan merindukan ayah, karena aktivitas membuat kita berjarak, tapi
percayalah putri ayah ini tak kan pernah melupakan ayah. setiap ponsel
berdering, dilayar ponsel pasti tertera nama ayah.
Lelaki
ini tak pernah absen meneleponku, ia akan berenti menelfon jika pulsanya telah
habis atau ia tidak akan menelfon jika tidak mempunyai pulsa dan aku paham itu.
Jika aku tidak mengangkat telfonnya, sasaran telfonnya ke adik perempuan ku
yang satu lagi. Dia satu tahun lebih muda dariku, tapi kami tak pernah akur.
Seperti kucing dan tikus yang selalu mencari masalah jika tidak ada masalah.
Lelaki
tampan yang yang mirip dengan ayah adalah adik bungsuku yang cengeng namun
memiliki dan mewarisi sifat ayah, ia rajin jika di perintah ayah dan ibu. Namun
lelaki bungsu ayah yang satu ini tidak bisa dibentak, jika ia menangis bakalan
lama drama melonya. Sedangkan adik di bawah cewek dan di atas bungsu agak
berbeda. Ia satu-satunya anak yang mewarisi gen ayah yang berkulit hitam, aku
biasa memanggilnya dengan pak itam. Bukan karena aku mengejeknya tapi aku suka
memanggilnya dengan sebutan itu. Aku mempunyai seorang kakak lelaki, tapi tak
perlu lah aku ceritakan.
Ayah
selalu adil terhadap ke lima anaknya tapi ia tak juga memanjakan anaknya, ia
hanya memberikan yang terbaik untuk kami semua. Ibu adalah pendamping ayah yang
ke empat dan ibulah yang berhasil memberikan permata hati ayah. istri pertama
dan kedua cerai hidup karena tidak memiliki anak, istri yang ketiga di panggil
sang maha kuasa setelah melahirkan buah cinta mereka. Setelah seminggu
kepergian ibunya putra lelaki yang dilahirkannya pun ikut menyusul di panggil
sang ilahi.
Setelah
kepergian anak dan istri tercinta ayah pergi merantau ketempat lain dan bertemu
lah dengan ibu dan hadirlah kami sebegai pelengkap kehidupan mereka. Ayah
sekarang bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu instansi pemerintah
daerah. Sudah lima belas tahun ayah mengabdi di sana. Ayah tak menuntut banyak
ia hanya ingin mengabdi kepada pekerjaannya.
Sebagai
anak kedua membuat aku ikut berperan dalam menanggung beban keluarga, aku
menjadi pundak untuk bersandar adik-adikku. Aku ingin jadi bagian dalam hidup
mereka, aku ingin ikut andil dalam membesarkan mereka, aku ingin mereka tidak
salah pergaulan dan salah jalan. Aku tak ingin mengekang mereka, tapi aku juga
tak ingin mereka terlalu bebas dengan dunia yang belum pantas untuk mereka
masuki.
Ayah
selalu bilang “ jangan paksa mereka untuk paham, karena belum saatnya. Ada
masanya mereka mengerti”. Aku dan dan ayah seperti solmet, dimana ada ayah di
situ ada aku. Aku juga dari kecil sudah terbiasa ikut ayah bekerja ketika ayah
bekerja di lapangan. Masih lekat di ingatanku ketika aku duduk di bangku kelas
dua Smp, saat itu pagi-pagi sekali seperti biasa ibu mengikat rambutku ketika
sebelum berangkat sekolah.
Ketika
ingin berangkat sekolah, aku melihat sapu tangan hijau di atas meja dekat
cangkir minuman ayah, ku ambil sapu tangan itu lalu aku pergi sekolah dengan
berjalan kaki. Dari rumah menuju Smp tempat ku menuntut ilmu tidak terlalu
jauh, di sekolah aku melakukan aktivitas seperti biasa. Hari itu tidak ada
firasat apa-apa, namun entah mengapa aku ingin sekali pulang lewat jalan raya.
Padahal jika aku dan teman-teman lewat jalan luar otomatis aku mutar dua kali
untuk jalan pulang. Yah tapi karena keingin hati terlalu kuat, aku dan
teman-teman tetap melangkahkan kaki pulang kerumah melewati jalan luar.
Tidak
terlalu jauh memasuki gang, tidak jauh di dekat lapangan bola tiba-tiba saja
ricuh. Semua orang berlari ke kerumunan orang-orang di tempat kejadian, aku pun
penasaran lalu berlari ke tempat orang-orang berkerumun tersebut. Karena
tubuhku yang kecil dan orang-orang yang berkerumun begitu padat aku tak dapat
melihat kejadian yang terjadi di dalam kerumunan tersebut. Dari arah depan
tiba-tiba datang teman sekelasku memanggil dengan panik, “mir… mir… bapak mu
kecelakaan?” bagaikan di sambar petir, pemandangan ku tiba-tiba kabur.
Aku
lalu di antar pulang kerumah oleh salah satu orang yang ada di tempat kejadian,
dan ayah sudah di bawa kerumah sakit umum daerah. Di rumah aku melihat ibu lagi
mekai jilbab sambil menangis, di depan rumah ada kakek. Lalu karena ibu lagi
menyiapkan barang-barang ayah, kakek lalu mengajak aku untuk pergi kerumah
sakit.masih ingat di ingatan pada saat itu pas bulan suci ramadhan.
Didepan
sebuah ruangan aku melihat ayah lagi di tindak lanjuti oleh rekan medis rumah
sakit. Dengan masih polos aku menangis di depan pintu icu dengan sapu tangan
hijau yang masih aku genggam yang aku bawa ketika pergi sekolah tadi. Lalu tak
selang beberapa lama dokter keluar dengan dan menanyakan keluarga ayah. lalu
aku menghampiri pria berbaju putih lalu menanyakan keadaan ayah,” dok gimana
keadaan ayah?” ujar ku khawatir. “ tenang ya dek, ibu adek mana? Ayah adek lagi
kritis. Kami butuh tanda tangan surat pernyataan ahli keluarga untuk menindak
lanjuti bapak”. Ujar dokter menenangkan ku.
“
emangnya bapak kenapa dok?” Tanya ku dengan penasaran. “ ada pendarahan di
kepala yang harus di hentikan”, Ujar dokter. “ lakukan yang terbaik dok, surat
menyurat biar saya yang urus”, ujar ku manatap sambil menunggu kedatangan ibu.
Aku tak mau ayah sampai lambat di tangani. Ayah adalah segala bagiku untuk saat
ini aku belum siap kehilangan ayah.
Sudah
satu jam ayah diruang operasi dan sudah tiga jam ayah ayah dalam keadaan koma,
dan belum sadarakan diri. Aku di dekap ibu sambil menangis, aku takut terjadi
sesuatu sama ayah. tak lama kemudian suster ruangan keluar memanggil dokter,
dan dokter memanggil ibu dan aku tetap menunggu di luar. Entah apa yang ibu
bicarakan bersama dokter yang bernama Deny itu tak tau lah. Setelah ayah di
pindahkan di ruangan rawat inap aku dan ibu yang menjaga ayah, kadang ibu
sendiri yang menjaga ayah di rumah sakit sedangkan aku mengurus keperluan
adik-adik di rumah.
Seminggu
lebih ayah dirumah sakit dengan tiga belas luka jahitan di kepala, lalu di
perbolehkan pulang namun tetap kontrol ulang seminggu sekali. Semenjak itu aku
pasti izin sekolah untuk mengantar ayah berobat kedokter. Namun alhamdulilah
para guru memahami posisi ku. aku tetap melanjutkan hari-hari ku seperti biasa,
semakin hari kondisi ayah semakin baik dan dapat melakukan aktifitas seperti
biasa.
***
Setelah
aku tamat Sekolah Menengah pertama ( SMP ), aku melanjutkan pendidikan yang
berbasis keagamaan di Madrasah Aliyah USB (MAN) Karimun. Ayah yang mengurus dan
menemani aku mengurus semua keperluan memasuki sma. Aku bahagia bertemu dengan teman-teman baru
disana. Disana aku belajar pelajaran umum dan pelajaran agama. Sampai kejadian
tak terduga kembali terjadi, di saat aku kelas dua SMA keluarga kami di uji
kembali kesabarannya. Ayah mengalami musibah kecelakaan tabrak lari,
kejadiannya sore hari setelah ayah di tengah perjalanan pulang bekerja.
Ayah
mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan lengan kanan ayah patah dan
harus menjalani operasi pemasang giv atau apalah itu namanya. Disaaat kejadian
itu motor ayah rusak parah dan ayah mengalami pendarahan, dan ayah mengalami
kekurangan banyak darah. Kakak lelaki ku sudah mendonorkan satu kantong dan
darah, dan di tambah dua kantong darah yang di beli dari kantor PMI. Itu belum
juga cukup untuk menutupi darah yang telah hilang dari tubuh ayah, disaat itu
juga aku tidak dapat menolong ayah karena aku lagi (maaf) datang bulan. Ingin
sekali membantu ayah namun aku tak bisa.
Di
saat itu juga aku harus libur izin cuti sekolah selama seminggu, selama
seminggu aku menemani ayah di rumah sakit sementara ibu bekerja untuk menutupi
kehidupan dan biaya perobatan ayah. sementara dia kakak lelaki hanya mondar
mandir entah kemana dan tak menghasilkan apa-apa. Aku geram, gondok, benci
kepada lelaki gendut yang seharusnya membantu ibu, seandainya iya mau menjaga
ayah di rumah sakit biar aku yang bekerja. Celetuk ku dalam hati.
Setelah
dua minggu ayah dirumah sakit, ayah di perbolehkan pulang. Namun kondisi ayah
tidak memungkinkan untuk bekerja, dan ibu yang mengambil alih menjadi tulang
punggung keluarga. Aku yang menjaga ayah dan amengurus adik-adik dirumah. Hari
berganti hari, dan bulan berganti bulan. Sekarang aku duduk di bangku sma kelas
tiga Madrasah Aliyah, tak terasa aku telah berada di hujung perjuangan. Aku
lulus dengan nilai yang memuaskan, perjuangan ayah tak sia-sia. Ayah begitu
bahagia mendengar kelulusan ku, dari sd,smp,sma, memang ayah yang mengantarkan
dan menemani aku mendaftar, dan di saat kelulusan ayah juga yang menemani aku
mengambil hasil dari tiga tahun aku berjuang di sma.
ayah
adalah surga dunia yang tak tergantikan, dia my Hero. Dia my father. My
everything.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar