Minggu, 05 Juni 2016

puisi Jerit Kerinduan



Jerit Kerinduan
(karya: Mira Industri)

Bibir bergetar lirih mengucapkan seuntai doa
Melerai jiwa yang tiba-tiba terasa hampa
Di atas sejadah merah muda aku mengiba
Akan rindu yang terselip dijiwa

Hati menjerit tak berdaya
Saat telapak tangan mengadu akan lara
Mencoba menumpahkan segala rasa
Hanya meminta kepada yang kuasa

Di atas sejadah rindu ku tuturkan
Derai cinta yang pernah engkau berikan
Saat engkau kenalkan aku dengan cinta
Cinta dari yang maha pencipta

Di sepertiga malam ku menangis
Akan rindu yang pernah hilang
Kini tubuh dan jiwa telah kembali
Kejalan yang telah engkau ridhoi

1001 pengalaman bersama dosen



Dosen ku, Inspirasi ku
(karya: Mira Industri)

20 agustus 2014 merupakan tanggal yang tak mungkin dapat aku lupakan dalam hidup ku. Di mana aku mulai menjadi Mahasiswa baru di universitas tempat aku menuntut ilmu sekarang, Universitas Maritim Raja Ali Haji yang di singkat  menjadi UMRAH. Ya di kampus itu lah aku dan sahabat-sahabat ku berjuang di tanah rantau untuk menuntut ilmu, seperti kata pepatah “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina”.
Tak terasa sudah hampir dua tahun kami di Tanjungpinang negeri ber-Azam ini, sekarang aku menduduki semester 4. Banyak sekali pengalaman yang aku dapat dari awal masuk kuliah sampai sekarang, dari pengalaman sedih, bahagia, suka duka telah aku alami. Padahal aku baru semester Empat, gimana semester atas fikirku.
Selain dapat teman-teman baru, aku juga mempunyai banyak kenalan dosen dari semester satu sampai sekarang, bermacam-macam jenis dan model dosen. Ada dosen yang baik hati, murah senyum, sombong, pemarah, dan killer. Suka-suka hati dosen mau masuk atau tidak, namun ada juga dosen yang peduli dan baik sama mahasiswanya.
Di semester Empat ini aku lebih semangat karena perjuangan yang ku lalui sudah lumayan jauh. Semester ini aku mengambil mata kuliah Retorika dengan dosen pengampu pak Said Barakbah Ali, beliau merupakan dosen yang amat aku senangi. Mengapa? karena setiap belajar beliau selalu saja melakukan lelucon yang membuat kami tidak bosan ketika di kelas.
Mata kuliah Perencanaan Pengajaran B.I di ajar oleh ibu Indah PujiAstuti, dosen yang gemar memakai celana ini merupakan dosen yang simpel, namun berwibawa. Beliau dosen yang baik namun tegas, itu yang aku sukai dari beliau. Mata kuliah berikutnya Sintaksis, dengan dosen pengampu bapak Drs.Suhardi. beliau adalah salah satu dosen yang murah senyum di kelas, selama belajar bersama beliau, ia tidak pernah marah. Beliau selalu berkata “ Untuk apa marah, tidak ada gunanya. Toh gaji saya juga tetap saja segitu tidak berubah jika saya marah”. Ucapan yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya.
Selanjutnya Dosen ganteng yang  mengajar Pengantar Ilmu dan Teknologi Maritim, Pak Jumsu Rizal. Beliau bukan dosen Fkip tetapi dosen kelautan, dosen yang satu ini sedikit unik, Setiap beliau ngajar ia pasti selalu duduk di atas meja. Memang untuk dosen itu kurang sopan sebagai contoh seorang pendidik, namun iya bukan dosen tetap dan itu merupakan kebiasaannya, kami tidak bisa membantah yang penting kami dapat ilmu dari beliau.
Mata kuliah Sanggar Bahasa dan Sastra di bimbing oleh ibu Titik Dwi Ramthi. Dosen yang lemah lembut serta berkaca mata ini merupakan dosen yang sangat mengerti akan yang namanya mahasiswa, beliau selalu mengajar dengan cara beliau sendiri. Beliau selalu menyebut mahasiswa cewek dengan panggilan kakak, sedangkan mahasiswa cowok dengan sebutan abang. Beliau salah satu dosen yang gemar memberikan tugas, tiada hari tanpa tugas.
Banyak dosen-dosen yang mengajar di kelas yang tak dapat ku sebut satu persatu. Kadang aku jengkel kepada dosen yang memperlakukan mahasiswanya di luar kewajarannya, padahal mahasiswa itu manusia biasa. Bukankah mereka sudah merasakannya atau mereka ingin kami seperti apa yang mereka rasakan. Yang aku tidak habis fikir di semester 3 satu mata kuliahaku ada mendapat nilai yang tidak aku harapkan, bayangkan diantara nilai yang lain nilai itu yang tidak enak di pandang mata, karena aku lambat mengantar tugas. Tugas yang aku kerjakan mati-matian tertinggal, dan softcopy di flashdis tidak dapat di buka karena bervirus.
 Aku meminta teman ku yang di rumah untuk membawanya ke kampus, dalam waktu satu jam temanku sampai di kampus. sampai di kampus tugas itu tidak di terima oleh dosen tersebut. Marah, kesal, gondok, pengen aku banting tugas itu ke arahnya. Namun, tak mungkin aku lakukan itu semua. Itu adalah tugas yang wajib di kerjakan, aku fikir itu hal yang sepele namun ber akibat fatal. Ya itu aku jadikan pelajaran buat kedepannya agar aku tidak lalai dan teledor akan tugas.
Aku tetap berterima kasih kepada beliau karena beliau lah aku jadi lebih teliti dengan tugas. Aku percaya tidak mungkin ada dosen yang ingin menjerumuskan siswanya, mereka pasti ingin mahasiswa nya berhasil dengan caranya masing-masing. Dia adalah dosenku, dia adalah inspirasiku.